Psikes.com —Kebakaran melanda bangunan cagar budaya District 22 di kawasan Kota Lama Semarang pada Selasa (27/8/2025) sekitar pukul 03.00 WIB. Api berasal dari lantai dua bangunan yang saat ini difungsikan sebagai pusat oleh-oleh dan restoran Sego Bancakan. Petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi sekitar pukul 03.45 WIB dan berhasil memadamkan api pada pukul 06.00 WIB dengan mengerahkan empat unit mobil pemadam.
Dokumentasi: PMII Rayon Psikologi dan Kesehatan
District 22 merupakan bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang telah mengalami berbagai perubahan fungsi, mulai dari kantor kepolisian negara, kantor Geo Wehry & Co serta PT Panca Niaga (1908–1910), hingga menjadi tempat biliar. Bangunan ini sempat tidak beroperasi selama lima tahun sebelum akhirnya dibuka kembali sebagai pusat kuliner dan oleh-oleh pada 2021. Penjaga bangunan menjelaskan bahwa area outdoor dulunya merupakan sebuah rumah yang telah diratakan, dan sisa lantai keramik lama masih dapat ditemukan pada kedalaman 30–60 cm. Di samping bangunan juga terdapat bekas penjara bawah tanah peninggalan Belanda yang struktur bangunannya masih tersisa.
Penjaga tersebut menceritakan adanya kejadian mistis yang dialami seorang pengemudi ojek online yang tengah mengintip dari saluran drainase dan ia mengaku melihat beberapa pemuda berjalan di dalam penjara bawah tanah seakan-akan tengah melakukan aktivitas didalam penjara bawah tanah yang sudah lama ditutup. Kejadian itu membuat pemilik restoran menutup sementara gerbang penjara bawah tanah dengan banner karena merasa takut. Cerita ini merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat sekitar dan tidak dapat diverifikasi secara ilmiah.
Kebakaran diduga dipicu oleh korsleting listrik di area restoran. Kobaran api membesar setelah 15 tabung gas melon dan 15 tabung gas 12 kg meledak secara beruntun. Empat pegawai Sego Bancakan yang sedang berada di dalam bangunan berhasil menyelamatkan diri melalui pintu belakang. Menurut keterangan penjaga District 22, dilantai 2 bangunan ini terdapat 4 “penjaga tak kasat mata” yang sudah menghuni tempat ini terlebih dahulu, salah satu dari 4 penjaga tak kasat mata tersebut digambarkan memiliki perawakan yang besar, tinggi, dan hitam legam terdapat dipojok ruangan yang dipercaya menjaga bagian tersebut agar tidak habis oleh kobaran api, dan benar saja dipojok ruangan tersebut masih utuh cat, atap, meja dan kursi hingga furnitur yang masih tertata rapi didinding restoran. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan “penjaga tak kasat mata”,Selain itu masih ada 2 “penjaga tak kasat mata” yang berada dilantai 1 distrik 22. Informasi tersebut merupakan bagian dari kepercayaan lokal dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
Pasca kebakaran, kondisi bangunan tampak rusak berat. Pilar-pilar jati restoran hangus terbakar, kaca pecah akibat ledakan LPG, serta pintu dan tangga depan mengalami kerusakan parah sehingga akses tertutup. Pihak pengelola mulai mempersiapkan proses renovasi. Sebelum renovasi dilakukan, penjaga menyarankan adanya slametan, sesuai dengan tradisi masyarakat sekitar. Karena statusnya sebagai bangunan cagar budaya, perbaikan wajib dilakukan tanpa mengubah bentuk asli bangunan peninggalan Belanda tersebut.
Tim Jurnalis Kelompok kompas.com
Fella Monaya (reporter)
Nasika Al Muna Susilo Putri (videografer)
Sinda Arum Melati (fotografer & writer)
Redaktur: Kuni Zahidah Afifah Billah
Tim Jurnalis
Biro Kajian dan Gerakan
PMII Rayon Psikologi dan Kesehatan
Komisariat UIN Walisongo Semarang