Psikes.com - Di sebuah Minggu pagi, 16 November 2025, cahaya matahari yang lembut menyelinap di antara bingkai jendela tua Kota Lama Semarang, memantulkan kilau keemasan pada deretan bangunan bergaya kolonial yang seakan menahan napas ditengah derasnya perubahan zaman. Disudut sudut jalan yang berliku tenang, tampak para pedagang dan pengunjung mulai berdatangan, berjalan perlahan seolah sedang memasuki halaman baru dari buku cerita yang telah lama tersimpan.
Dokumentasi: PMII Rayon Psikologi dan Kesehatan
Mereka datang untuk melihat dan menikmati barang antik di toko-toko yang berjejer disebuah bangunan di tepi Kota Lama Semarang, sebuah ruang penjumpaan di mana barang-barang berdebu kembali berbisik, menceritakan asal-usulnya pada siapa saja yang mau berhenti sejenak untuk melihatndan mendengar. Ada jam tua yang pernah menyaksikan puluhan pergantian tahun, foto-foto hitam putih yang memeluk kenangan, hingga koper kulit yang seolah masih menyimpan aroma perjalanan dari masa lalu.
Semua ini berlangsung karena satu alasan sederhana namun mendalam keinginan untuk merawat memori dan menjaga kehidupan para pedagang yang menggantungkan harapannya pada jejak sejarah. Ditengah hiru pikuk modernisasi, took barang antik ini menjadi jeda kecil sebuah ruang damai tempat masa lalu dan masa kini bertemu.
Dan begitulah cara tempat ini berlangsung dengan langkah langkah santai para wisatawan berhenti pada setiap ruko, percakapan hangat yang tumbuh tanpa dipaksa, tawar menawar yang lebih terasa seperti pertukaran cerita daripada harga, serta senyum pedagang yang merekah ketika barang-barang antik mereka menemukan pemilik baru. Semua menyatu dalam harmoni yang tenang, menciptakan suasana yang bukan sekedar ramai, tetapi pengalaman yang meresap perlahan kedalam ingatan.
Seorang penjual yang bernama Pak Rofiq beliau berasal dari Kota Semarang. Pak Rofiq merupakan penjual barang antik di pasar antik Kota Semarang. Selain itu beliau juga merupakan pemandu wisata. Sudah 12 tahun lamanya Pak Rofiq menjadi penjual barang antik. Semenjak tahun 2013, menurut Pak Rofiq “Tidak semua barang lama bisa menjadi barang antik. Ada barang lama yang memang benar – benar antik. Ada juga barang yang lama tapi tidak bisa dikatakan antik karena tidak adanya fungsi dan kenangan di dalamnya.” Begitu kata beliau.
Antik terbagi menjadi dua yaitu barang tua yang benar – benar antik dan barang jadul, kriteria tersebut tentu mempengaruhi nilai jualnya, karena barang antik itu tua, unik, dan punya sisi cerita dan kenangan. Itulah mengapa barang antik mempunyai nilai yang tinggi. Cara pak rofiq mendapatkan barang – barang antik ini dengan mencari ke luar kota masuk ke rumah- rumah, bahkan ada yang langsung menyetorkan atau memberikannya kepada Pak Rofiq. Sistem pemasukkan barangnya dengan cara jemput terima orang yang menyetorkan.
Terdapat banyak sekali komunitas pedagang antik yang tingkatannya mulai dari tiap kota, dalam negeri, hingga internasional. Cara Pak Rofiq memasarkan barang antik ini dengan mempromosikannya lewat medsos. Pada tahun 2013 Pak Rofiq mulai memasarkan barang barang antik ini di Facebook. Alasannya karena menurut Pak Rofiq media sosial bukan hanya sebatas media hiburan, tetapi dibalik itu semua disaat kita mempromosikan barang yang bisa di jual dan terdapat transaksi kita bisa mendapatkan peminat dari barang yang kita jual dan semua itu Pak Rofiq mulai dari tahun 2012 sampai sekarang Pak Rofiq masih memasarkan barang dagangan nya di Facebook.
Kenapa Pak Rofiq tidak memasarkannya di Instagram?, karena Pak Rofiq beranggapan bahwa Instagram lebih banyak digunakan oleh khalayak muda, sementara jika di Facebook yang menggunakan adalah generasi terdahulu yang kemungkinan mempunyai daya tarik yang lebih tinggi terhadap barang antik. Dan selain itu di Facebook juga terdapat banyak sekali kenalan dari berbagai komunitas barang antik, sehingga mempunyai kepercayaan lebih kepada mereka. Pak Rofiq tidak menerima COD walau kebanyakan orang orang zaman sekarang menggunakan APK belanja online. Tetapi Pak Rofiq tidak memasarkan barang antik ini di APK tersebut. Alasannya karena keuntungan yang di dapat tidak memuaskan, sedangkan jika dibandingkandengan pemasaran di Facebook Pak Rofiq bisa mendapatkan keuntungan hingga jutaan dan sangat memuaskan.
Selain di Facebook Pak Rofiq juga mulai memasarkan di Tiktok. Karena Pak Rofiq sadar akan berkembangnya teknologi digital di zaman sekarang. Pak Rofiq sudah menjalankan pemasaran di Tiktok selama 4 tahun belakangan ini, alasan lainnya jika suatu saat pelanggan di Facebook Pak Rofiq lebih tertarik pemasaran di Tiktok maka Pak Rofiq sudah siap. Tetapi walaupun Pak Rofiq memasarkannya di Tiktok tetap saja Pak Rofiq tidak menyediakan transaksi secara online.
Susunan Tim Jurnalis Kelompok Detik.com:
1. Reporter : Sirli Amriyatul Firda
2. Videografer : Raka Fadillah Masaid
3. Fotografer : Laelatul Qodriyah
Redaktur: Kuni Zahidah Afifah Billah
Tim Jurnalis
Biro Kajian dan Gerakan
PMII Rayon Psikologi dan Kesehatan
Komisariat UIN Walisongo Semarang